Home / Parlemen

Selasa, 5 Agustus 2025 - 14:34 WITA

“Saya Tak Mau Saling Menyandra!” — Ghalib Lahidjun Pilih Kembalikan Pokir demi Kepentingan Rakyat

GORONTALO (JM) – Polemik terkait anggaran pokok-pokok pikiran (pokir) kembali memanaskan hubungan antara eksekutif dan legislatif di Provinsi Gorontalo. Legislator Partai Golkar, Ghalib Lahidjun, secara tegas mengingatkan agar pokir tidak dijadikan alat “saling sandera” antara DPRD dan pemerintah daerah, yang justru berpotensi merusak stabilitas hubungan kelembagaan.

“Pokir itu memang hak anggota DPRD, dan wajar jika diperjuangkan karena berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat,” ujar Ghalib Lahidjun, saat diwawancarai usai rapat kerja Komisi IV, Selasa (5/8/2025). Namun, ia mengkritik keras praktik tarik-menarik anggaran pokir yang belakangan ini justru menjadi batu sandungan dalam relasi eksekutif dan legislatif.

Ghalib menyoroti tertundanya sidang paripurna DPRD Gorontalo baru-baru ini, yang menurutnya hanya dipicu oleh polemik seputar pokir.

“Bisa dibayangkan, paripurna kemarin harus tertunda hanya gara-gara soal itu (pokir). Ini menjadi preseden buruk,” ungkapnya.

Sebagai bentuk sikap pribadi, Ghalib menyatakan keinginannya untuk mengembalikan alokasi pokir miliknya kepada pemerintah daerah. Ia menyebut anggaran sebesar Rp200 juta, yang semestinya menjadi jatah pokir setiap anggota DPRD, lebih baik dikelola langsung oleh pemerintah untuk mendukung kebutuhan OPD, khususnya yang menjadi mitra Komisi IV.

“Saya tidak mau saling menyandra hanya demi kepentingan pokir. Ini bukan soal siapa dapat apa, tapi bagaimana anggaran itu betul-betul berpihak ke masyarakat,” tegas Ghalib.

Menurutnya, DPRD harus bijak dalam menempatkan fungsi anggaran sesuai tupoksi kelembagaan, yakni fungsi budgeting, legislasi, dan pengawasan. Ia mengingatkan, dominasi DPRD dalam menarik seluruh anggaran menjadi kewenangan legislatif justru akan mencederai esensi kemitraan yang sehat dengan eksekutif.

“Toh kalau saya kembalikan ke pemerintah, uang itu juga akan kembali ke masyarakat. Tidak ada yang dirugikan,” ujarnya.

Ghalib pun berharap sikapnya ini bisa menjadi refleksi bagi para koleganya di DPRD agar lebih mengedepankan semangat kolaborasi, bukan ego sektoral dalam mengelola anggaran publik.

“Saya memilih mengembalikan ruang pengelolaan pokir ini ke pemerintah. Mari kita perbaiki relasi ini, demi pelayanan yang lebih baik kepada rakyat,” pungkasnya.

Share :

Baca Juga

Parlemen

Fraksi Amanat Bangsa Soroti Minimnya Terobosan PAD dari Sektor Digital dan Lingkungan

Parlemen

Fraksi Gerindra Ingatkan KUA-PPAS dan RTRW Boalemo Harus Lebih Realistis dan Berpihak pada Rakyat

Parlemen

Thomas Mopili Apresiasi Pelestarian Musik Keroncong di Hari Pahlawan

Parlemen

Ketua DPRD Gorontalo: Pancasila Harus Diamalkan, Bukan Sekadar Dikenang

Parlemen

Reses, Hardi Mopangga Sampaikan Ini Kepada Kades

Kabupaten Pohuwato

Nasir : DPRD Pohuwato Siap Kawal Kehadiran Investasi Pertambangan Pani Gold Project

News

Sektor Pertambangan Jadi Pembahasan Alot di Ranperda RTRW Boalemo

Parlemen

Wakil Ketua DPRD Muslimin Haruna Ajak Warga Manfaatkan Lahan Tidur