BOALEMO (JM) — Pemerintah Kabupaten Boalemo terus mendorong para petani untuk beralih ke pola pertanian berkelanjutan melalui penerapan sistem agroforestry, yakni menggabungkan tanaman pangan dengan tanaman tahunan. Langkah ini diambil sebagai strategi menjaga kelestarian lingkungan, mengendalikan erosi, sekaligus meningkatkan produktivitas lahan dalam jangka panjang.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Wakil Bupati Boalemo, Lahmuddin Hambali, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Aset Lahan Pertanian Melalui Sistem Usaha Tani Konservasi dan Agroforestry di Desa Balate Jaya, Kecamatan Paguyaman.
Dalam arahannya, Wabup Lahmuddin menyoroti pemanfaatan lahan perbukitan dengan kemiringan ekstrem mendekati 45 derajat yang marak digunakan warga untuk budidaya jagung. Menurutnya, mengolah dataran tinggi tanpa diimbangi tanaman konservasi berisiko tinggi memicu kerusakan lingkungan.
“Masyarakat banyak yang mengelola dataran tinggi, yang tanpa disadari dapat mengakibatkan erosi,” tutur Lahmuddin.
Ia memaparkan bahwa perakaran tanaman jagung yang dangkal kurang mampu menahan guyuran air saat curah hujan tinggi. Akibatnya, alih fungsi wilayah yang dahulunya berhutan menjadi perladangan jagung tanpa tanaman pendamping mulai memicu erosi dan meningkatkan potensi bencana banjir.
Guna mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Boalemo menyiapkan solusi berupa dorongan penanaman jenis tanaman tahunan, seperti durian dan kakao. Selain kuat menahan struktur tanah, kombinasi tanaman tahunan ini menjadi alternatif investasi jangka panjang bagi para petani.
Lahmuddin mengingatkan petani agar tidak melulu bergantung pada tanaman jagung. Meski masa panennya tergolong singkat, fluktuasi harga jagung di pasaran kerap tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi yang dihabiskan.
Melalui pendekatan usaha tani konservasi ini, Pemkab Boalemo berharap masyarakat dapat mengelola lahan dengan lebih bijaksana, menjaga kesuburan tanah, dan menciptakan sumber pendapatan yang stabil. Pemerintah daerah pun berkomitmen siap memberikan pendampingan serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak agar sektor pertanian setempat tetap produktif secara ekonomi tanpa merusak ekosistem. (JM)
























